Jumat, 30 Agustus 2013

Episode 8 _Semangat Baru_



Hujan itu akhirnya turun juga. Menumbuhkan pohon – pohon semangat berhawa jihad

Episode 8
Semangat Baru
  Langit seakan memerah. Terik matahari seakan membara membakar bumi. Panas hari ini melebihi hari biasanya. Angin sepoi – sepoi berhembusan. Menemani hembusan nafas yang dipenuhi semangat. Hembusan nafas dari seorang anak di sebuah pondok sederhana. Sebuah tempat yang diisi oleh para manusia bernafas jihad.
  Dimana – mana terdengar suara para santri berteriak – teriak meneriakkan pelajaran mereka. Di kelas, masjid, kebun,
atau dimana saja dalam lingkungan pesantren ini sesuka guru masing – masing kelas mencari suasana yang enak dalam belajar. Semua belajar dengan penuh semangat.
  Sungguh nafas – nafas jihad berhembusan dimana – mana dalam pondok sederhana ini. Para santri yang belajar berjihad dalam mempelajari pelajaran mereka. Guru – guru berjihad menghamalkan ilmu – ilmu mereka. Jihad, jihad, dan jihad. Rasulullah pernah bersabda yang artinya “siapa saja yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu maka ia ada di jalan Allah sampai ia pulang”. Semua santri pergi meninggalkan rumah mereka menuju ke pondok ini untuk menuntut ilmu. Para guru juga meninggalkan rumah mereka untuk mengamalkan ilmu – ilmu mereka. Selama mereka ada disini mereka adalah pasukan jihad. Jihad dalam menuntut ilmu. Selama mereka ada disini maka mereka berada dalam zona fisabilillah. Jika maut menjemput maka mereka meninggal dalam keadaan fisabilillah. Ini berarti menyatakan kalau ia mati dalam keadaan syahid. Sungguh selama mereka masih berada disini maka pahala Allah akan terus mengalir menjadi sebuah bekal menuju akhirat.
  Semua nafas jihad itu mengebu – ngebu mengiringi perjalananku di pesantren ini. kali ini aku sungguh merasa semangat yang sangat berkobar – kobar di dada. Saat waktu subuh tiba aku segera bangun tanpa bermalas – malasan lagi. Segera menuju masjid dan berteriak – teriak untuk menghafal al-Qur’an. Hasilnya aku selalu berhasil menjadi penyetor hafalan pertama dengan jumlah ayat yang lumayan. Selesai waktu tahfidz aku segera mandi dan bersiap – siap menuju kelas. Di kelas lagi – lagi aku berteriak – teriak menghafal pelajaran. Soal bahasa arab aku selalu dibimbing oleh ustadz Ya’kub. Seorang yang disebut sebut sebagai master bahasa arab di pondok ini entah kenapa sangat senang mengajariku. Bukan hanya bahasa arab saja, tapi pelajaran – pelajaran yang lain. Di luar kelas aku menjalani semua aktivitas dengan ikhlas. Aku menikmati semua tanpa merasa terbebani. Bersama teman – teman yang lain aku merasa senang menjalani semua ini.
****
  Seorang pengurus mengumumkan bahwa pondok ini ingin mengadakan lomba pentas seni. Isinya adalah lomba apresiasi panggung. Semua santri di bagi – bagi dalam banyak kelompok dan berlatih untuk menampilkan yang terbaik di atas panggung nanti.
  Saat waktunya tiba semua santri berkumpul di aula. Sebuah panggung sederhana dibuat untuk acara nanti. Lomba – lomba berkelompok terdiri dari lomba – lomba teather. Sisanya ada lomba yang mengutuskan perorangan dalam penampilan mereka yaitu lomba adzan dan lomba tahfidz.
  Saat acara berlangsung ada suatu hal yang sangat mengejutkan. Ahmad Syafi’I, bocah yang aku anggap sebagai rival dalam menghafal al-Qur’an itu naik ke atas panggung sendirian. Ia tampil dalam lomba tahfidz. Sungguh terkejutnya aku saat mengetahui bahwa ia maju dalam menampilkan hafalannya yaitu sebanyak 1 juzz. Juzz itu adalah juzz ke 30. Hafalan yang ditugaskan untuk seluruh santri baru dalam satu tahun pertama. Tetapi hari ini dia berhasil menyatakan dirinya telah menghafalnya dalam jangka waktu tiga bulan. Hal itu ia buktikan pada penampilannya.
  Sepanjang bacaan yang ia baca. Kemampuan menjawab ketika ditanya para juri dengan cara meneruskan bacaan yang ia baca. Semua ia tampilkan dengan tenang tanpa kesalahan. Dalam hati aku merasa kagum dan kesal. Kagum akan kemampuannya dan kesal pada diri sendiri yang selalu tertinggal olehnya.
  Sejak itu aku semakin bersemangat dalam menghafal. Semakin lama disini aku jadi semakin mudah dalam menghafal. Ini menjadikan setoran hafalanku melesat dengan cepat. Dalam waktu dekat akan ku kejar rivalku itu.
  Semakin hari semakin banyak ayat yang ku hafal dan akhirnya aku berhasil menghatamkan satu juzz dalam juzz 30. Syukur Alhamdulillah yang telah memberikanku izin untuk menghafal firmanNya. Muqri memberitahukan bahwa aku harus menemui ustadz yang bernama ustadz Mulyadi. Dia adalah seorang ustadz yang telah berhasil menghafal alqur’an seutuhnya. Dan mulai hari itu aku menjadi murid khususnya untuk di tashih bacaan alqur’an.
  Ustadz Mulyadi menyuruhku membawa pensil setiap kali datang padanya. Dengannya aku harus mengulang – ulang ayat – ayat yang kuhafal. Jika diketemukan kesalahan dalam pembacaan tajwid ia akan segera mengetuk tongkatnya ke meja. Ayat dimana aku melakukan kesalahan harus diberi tanda dengan pensil yang kubawa. Selesai mengaji ayat – ayat yang ditandai itu harus terus ko koreksi bacaannya. Dia tidak mau jika aku melakukan kesalahan dalam bacaan untuk kedua kalinya. Sungguh tak kusangka dalam bacaanku banyak sekali ditemukan kesalahan dalam bacaan. Setiap kali aku sedang membaca dan tiba – tiba ia mengetuk tongkat kecilnya aku akan segera terkejut dan terkadang membuatku lupa ayat yang sedang kubaca. Semua ini sungguh di luar dugaan. Ternyata tidak mudah dalam pelatihan membaca al-Qur’an dengan tajwid yang benar.
  Setelah cukup lama akhirnya aku berhasil dinyatakan lulus olehnya. Kemudian ia akan mengadakan acara sima’an[1] untukku. Ia juga mengundang orang tuaku.
  Saat waktunya tiba kedua orang tuaku datang dan masih belum mengerti betul untuk apa mereka diundang datang. Akupun masih belum mengerti. Sehabis magrib sebuah ruangan dirapihkan. Ada beberapa orang disana. Mereka kelompok tahfidzku dulu. Disana aku harus duduk di depan penonton dan membaca hafalanku mulai dari surat anNaba sampai anNass. Lengkap semua satu juzz. Pembacaan kali ini menggunakan speaker sehingga terdengar ke seluruh pelosok pesantren. Kedua orang tuaku duduk manis di depan sambil kanan memperhatikan aku yang sudah mulai menggenggam mic.
  Waktunya dimulai. Ada sedikit rasa gugup namun segera kuhilangkan rasa itu denga meyakinkan diriku bahwa aku bisa. Kumulai dengan surat alfatihah dan segera masuk ke surat pertama, surat anNaba. Bersambung terus ke surat anNaziyat, kemudian surat abBasa dan seterusnya. Alhamdulillah dengan izin Allah aku dapat membaca seluruhnya dengan lancar.
Selesai acara orang tuaku segera memelukku. Air matanya menangis. Aku yakin air mata itu adalah air mata bangga. Aku senang bisa membuat mereka meneteskan air mata bangga itu. Bagiku air mata itu lebih mahal dari mutiara. Andai aku bisa menyimpannya akan kusimpan dan kujaga sebagai harta terindah yang aku dapat. Belum lama aku membuat orang tuaku menangis sedih karena aku yang menyerah dan meminta untuk berhenti. Hari ini aku kembali membuat mereka menangis kembali karena aku berhasil menghafal juzz amma lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Meskipun aku belum bisa melebihi rivalku itu.
Keesokan harinya aku terus mempercepat hafalanku. Kali ini lebih santai karena aku mulai mendapatkan kemudahan dalam menghafalnya. Dalam satu tahun aku berhasil menghafal sampai setengah juzz lebih dari surat alBaqarah ditengah banyaknya santri yang tidak bisa mencapai target menghafal juzz amma. Naik ke kelas dua, di pertengahan tahun aku berhasil menghafal sampai tiga juzz. Duduk di kelas tiga aku berhasil mencapai lima juzz dan di akhir tahun aku berhasil mencapai tujuh juzz. Target seorang santri selama enam tahun di pondok adalah lima belas juzz atau setengah dari alqur’an. Tapi aku menargetkan diriku untuk dapat menghafal seluruhnya sebelum lulus dari pondok ini.
Mulai duduk di kelas empat seorang santri mulai menjabat dalam organisasi. Aku mulai menemukan kesulitan baru dalam menghafal alQur’an. Sore hari adalah waktu untuk mengulang – ulang hafalan. Hafalan yang semakin banyak membuatku semakin kesulitan dalam melancarkan semua hafalan itu dalam satu bacaan. Terkadang saat membaca ayat tertentu tiba – tiba malah tersambung ka ayat lain. Hal itu sering terjadi sehingga mengacaukan hafalan. Surat yang sering terlupakan adalah surat anNisa karena surat itu banyak yang menjelaskan tentang wanita. Berbicara tentang wanita menggunakan bahasa arab memang agaj sulit sehingga besar factor untuk terlupakan. Aku mulai menyesuaikan antara penambahan hafalan dan pengulangan. Ini dilakukan untuk melancarkan hafalan yang sudah kuraih meskipun hal ini memperlambat dalam penambahan hafalan. Karena hal ini aku hanya berhasil menghafal sampai juzz ke 12 sebelum lulus.
****
Dalam mempelajari segala pelajaran di pesantren aku harus melakukannya dengan penuh perjuangan. Jika sudah menghafal terkadang aku harus mondar – mandir dengan buku ditanganku dan mulutku komat – kamit mengulang – ulang yang harus kuhafal dengan suara yang tinggi. Pesantren memang akan ramai jika para santri sedang belajar. Berjalan – jalan, mencari tempat sepi, tempat luas, di kebun, atau sampai berguling – guling di lantai beranda masjid. Semua dilakukan asalkan pelajaran itu dapat menempel di kepala.
Jika pelajaran itu sudah dapat kuhafal maka aku akan berlatih menuliskan hafalan itu di sebuah buku yang sudah kusediakan untuk ku coret – coret tanpa melihat teks aslinya. Dengan begitu bukan hanya menghafal kalimatnya saja yang kiubisa, tapi juga menuliskannya.
Saat ujian tiba suasana akan berubah menjadi panas. Olahraga dan perizinan ditutup. Semua santri diharuskan fokus pada belajarnya saja. Ujian disini terbagi dua yaitu ujian syafahi dan ijian tahriri. Ujian syafahi adalah ujian secara lisan. Terbagi menjadi tiga materi yaitu bahasa arab, alqur’an, dan bahasa inggris. Terakhir baru ujian tahriri atau ujian secara teks. Alhamdulillah atas izin Allah pada ujian kelas satu aku dapat nilai yag sangat lumayan. Jika dikategorikan masuk nilai A dan selalu bertahan tidak pernah turun selama aku tinggal di pondok ini.
Beranjak ke kelas dua seluruh pelajaran menjadi berbahasa arab. Tidak ada pelajaran yang berbahasa Indonesia kecuali pelajaran bahasa Indonesia. Namun karena bahasa arab disini sudah menjadi bahasa sehari – hari maka hal ini menjadi biasa saja. Dalam menghafal pelajaran aku juga sudah mulai mendapatkan kemudahan. Lama kelamaan aku tidak usah berteriak – teriak lagi dalam menghafal. Aku cukup membacanya dengan nada biasa beberapa kali maka akan terhafal sendiri. Kemudian aku mulai mampu menghafal hanya dengan memperhatikan teksnya saja tanpa harus membacanya berulang – ulang kali. Bahkan aku mulai mampu menghafal hanya dengan mendengarkan seseorang membacanya sekali atau beberapa kali saja. Sungguh suatu nikmat Allah yang tak terhingga. Sesuai janji Allah bahwa akan datang kemudahan setelah kesusahan. Dulu aku harus mati – matian menghafal saat baru masuk ke pondok ini. tapi sekarang aku tidak perlu melakukan itu lagi.
Prestasiku terus meningkat. Saat aku duduk di kelas tiga, direktur pesantren menyediakan sebuah ruangan VIP untuk para santri yang berprestasi. Aku termasuk santri yang mendapatkan ruang itu. Di dalamnya aku mendapatkan fasilitas yang lengkap. Kamar mandi sendiri sehingga tidak perlu mengantri panjang lagi, dapur sendiri sehingga tidak perlu mengantri makan lagi, study tour setiap minggunya, diberikan televisi, radio dan komputer. Semua ini hanhya dimiliki oleh para santri yang tinggal di VIP. Selain fasilitas yang lengkap juga banyak pembinaan – pembinaan dalam bidang keilmuan yang lebih dari santri biasa. Aku serasa tinggal di rumah saja di ruang VIP ini. Namun para santri yang telah berhasil memasuki ruangan ini tidak bisa bersantai saja karena setiap usai ujian akan selalu ada seleksi. Mereka yang nilainya mencapai target akan diperkenankan tinggal di VIP, sebaliknya bagi yang nilainya turun dari target akan keluar dari VIP menuju kamar biasa. Alhamdulillah aku berhasil bertahan di ruang ini sampai akhirnya aku mulai pindah ke ruang organisasi saat mulai menjadi pengurus, sedangkan ruang VIP diganti dengan beasiswa sebagai reward untuk para santri yang berprestasi.
****

[1] Pembacaan hafalan alqur’an dengan disaksikan orang banyak
Judul: Episode 8 _Semangat Baru_
Rating: 10 out of 10 based on 24 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh Aghry

Jika Anda Suka Tulisan Ini, Mohon dishare ke teman - teman juga ya agar mereka juga dapat menikmati. Berikan juga penghargaan pada tulisan ini dengan menekan tombol G+. Mohon kesan dan kritiknya juga di komentar guna memperbaiki tulisan ini. Terima Kasih Atas Kunjungan Anda...

0 comments:

Posting Komentar

 
;