Rabu, 31 Juli 2013

Episode 4 _Lagi – Lagi Menghafal_

Sesuatu yang besar harus dibayar dengan perjuangan yang besar juga. Kejeniusan ini terlahir dari sini

Episode 4
Lagi – Lagi  Menghafal
  Malam masih terasa sunyi. Udara yang sangat dingin menusuk – nusuk tubuh. Tidak ada suara apa – apa kecuali hewan – hewan malam yang sedang menyenandungkan tasbih untuk sang penguasa malam. Suara mereka saling sahut – menyahut berkesinambungan.
  Tiba – tiba sebuah suara
yang berasal dari sound – sound yang tersebar di beberapa tempat dengan kerasnya memecahkan keheningan malam. Suara itu adalah rekaman lantunan tilawah Al – Qur’an yang disetel di masjid. Tidak lama kemudian terdengar suara beberapa santri yang sedang membangunkan semua yang sedang tidur. Aku segera melihat jam dinding. Sudah jam empat dan sebentar lagi waktu akan memasuki waktu subuh.
  Waktu terasa sangat cepat berlalu. Belum sempat mata ini terpejam tiba – tiba sudah subuh saja. Beberapa santri di kamarku mulai bangun dan membangunkan teman disampingnya. Lampu mulai dinyalakan. Aku tidak tahu aktivitas apa yang akan berlangsung sekarang tapi aku yakin semua pasti akan menuju masjid untuk melaksanakan shalat subuh berjama’ah. Aku ikut bersiap ke kamar mandi untuk membasuh wajah.
  Midho’ah[1] sudah dipenuhi santri. Sepertinya harus mengantri lama dulu untuk mendapat giliran mengambil wudhu. Sambil kutenteng peralatan mandi aku mengantri di belakang para santri. Namun aku melihat ada dua buah kamar mandi yang terpisah dari midho’ah. Midho’ah disini memang berukuran panjang dan menyambung dengan kamar mandi dan toilet. Namun ada beberapa kamar mandi yang dipisah dengan dinding.
  Kulihat salah satu dari dua kamar mandi yang terpisah tadi kosong aku memutuskan untuk mandi disitu. Namun keinginan ku untuk mandi ku urungkan saja karena udara kurasakan sangat dingin. Di dalam aku hanya buang air kecil dan menggosok gigi lalu berwudhu. Setelah itu aku mulai menuju masjid untuk menunggu adzan.
  Setelah shalat para santri melakukan seperti yang kulihat kemarin magrib. Mereka semua mengambil qur’an masing – masing dan membacanya di tempat – tempat mereka sesuai kelompok. Untuk santri baru sejenak dikumpulkan oleh salah satu ustadz untuk dibagikan kelompok – kelompoknya.
  Aku mendapatkan kelompok yang dibimbing oleh ustadz Siddiq di sebelah kanan dalam masjid. Setelah pembagian selesai semua santri baru menuju tempat kelompok masing – masing termasuk aku. Beberapa santri lain yang sekelompok denganku ikut menuju tempat yang sudah ditentukan. Kemudian seorang lelaki setengah baya dengan pakaian koko datang menuju kami. Aku yakin dialah yang bernama ustadz Siddiq.
 Posisi pun diatur dengan cara membuat setengah lingkaran dan ustadz duduk di tengahnya. Ustadz Siddiq mengintruksikan kepada kami tentang kegiatan yang sedang kita jalani. Kegiatan itu namanya adalah Tahfidzul Qur’an atau menghafal Al-Quran. Kami diberitahu bahwa seorang santri disini diwajibkan menghafal al’qur’an sampai lima belas jus sebelum kelulusan. Untuk kami siswa kelas satu ditargetkan untuk dapat menghafal juz 30 atau lebih dikenal dengan juz ‘amma. Tak pernah terfikirkan olehku bahwa aku akan diwajibkan untuk menghafal Al-qur’an yang sangat tebal itu sampai  begitu banyaknya. Sebelumnya dalam pengajian biasanya sang ustadz hanya menyuruh membaca kemudian ia mengoreksi jika ada bacaan yang salah. Hafalan hanya kadang – kadang saja dan itupun hanya sekedar surat – surat pendek.
Hafalan dimulai dari serentak dari surat an-Naba’. Surat ini lumayan panjang sampai menghabiskan 1 lembar al-qur’an milikku. Belum pernah aku menghafal sampai sebanyak ini sehingga aku kesulitan dengan cara untuk bisa menghafal surat tersebut. Namun belum lama berlangsung seorang temanku maju menghadap ustadz Siddiq untuk menyetorkan apa yang sudah dia hafal. Dalam waktu singkat dia berhasil menghafal sampai setengah kaca dalam lembar al-Qur’an.
Aku terkesima melihat dia berhasil menyetorkan sampai segitu banyaknya sekaligus memotivasi diriku untuk bisa menghafal sepertinya. Kubaca ayat per ayat sampai berulang – ulang berharap ayat – ayat yang kubaca itu menempel dikepalaku. Namun waktu tahfidz hanya sampai pukul enam pagi saja. Aku hanya bisa menyetorkan sampai tiga ayat saja.
Bel berbunyi pertanda waktu tahfidz sudah habis. Udara pesantren di pagi hari terasa sangat sejuk. Pemandangan pesantren mulai dapat kurasakan. Di beberapa tempat terlihat santri – santri lama membersihkan di tempat – tempat yang kotor.
Udara pagi yang dingin membuat perutku lapar. Alhamdulilah ibuku menyimpan beberapa energen dan mie gelas di tasku. Namun semua itu membutuhkan air panas. Saat kulihat termos milikku tidak kudapatkan air panas. Termos ini belum diisi. Seorang teman disebelahku yang mengenalkan namanya bernama Anggriadi memberitahuku bahwa aku dapat mendapatkan air panas secara Cuma – Cuma di matbakh[2] karena memang sudah sengaja disiapkan oleh tukang masak pesantren.
Marbakh terletak setelah kamar mandi. Menuju kesana aku baru menyadari bahwa jalan – jalan disini dikelilingi oleh bunga – bunga yang sangat indah. Suasana ini menambah kesejukan pagi. Aku serasa berjalan di taman meskipun agak aneh bahwa di ama nada sebuah jemuran panjang dengan tumpukan – tumpukan pakaian basah. Semua santri menjemur pakaian disitu.
Sambil menikmati sarapan aku berkeliling pesantren untuk melihat – lihat. Aku mulai mendapatkan banyak teman dan bisa saling bertukar cerita kenapa mereka sampai bisa masuk pesantren ini. Semuanya baik dan aku mulai dapat merasakan kenyamanan disini. Meskipun kulihat masih ada beberapa santri baru yang menangis sejadi – jadinya untuk dapat diantar pulang ke rumahnya. Biasanya kakak – kakak kelas akan datang untuk memberikan nasihat agar ia tenang
Hari pertama di pesantren belum ada kegiatan yang tetap untuk dijalankan oleh santri baru. Hanya sekedar bersantai atau berkeliling pesantren untuk mengenal lebih jauh tentang pesantren sambil bertanya – Tanya oleh kakak kelas.
****
  Usai shalat dzuhur kami kembali dikumpulkan. Hanya sekedar penjelasan kegiatan sementara tentang wajibnya shalat berjama’a di masjid, waktu menghafal al-Qur’an, dan waktu istirahat. Disiplin waktu mulai diterapkan meskipun belum tegas karena masih dalam tahap perkenalan. Kami juga diberitahu kalau mulai besok akan dimulainya acara Khutbatul ‘Arsy, sejenis acara perkenalan yang biasa diadakan di sekolah – sekolah. Namun dalam pesantren agak berbeda karena acara ini wajib diikuti oleh seluruh orang yang ada di pesantren itu. Mulai dari pimpinan, dewan guru, sampai seluruh santri.
Sore hari kami mulai menghafal al-Qur’an kembali sampai datangnya waktu isya. Kali ini ustadz Siddiq mengajarkan kami system menghafal yang dijalani dalam pesantren ini. Pagi hari digunakan untuk tafwid atau penyetoran hafalan. Sore hari digunakan untuk taqrir atau pengulangan hafalan – hafalan yang sudah disetorkan. Ustadz yang bertugas untuk membimbing disebut muqri’.
Selesai shalat isya adalah waktunya makan malam kemudian belajar malam bersama di masjid. Disitu kami diberitahu bahwa bahasa yang digunakan dalam pesantren ini adalah bahasa arab. Sehari – hari para santri wajib berkomunikasi dengan bahasa arab. Jika terluncur sedikit saja kata berbahasa Indonesia maka akan segera dihukum oleh penanggung jawab bahasa dalam pesantren. Untuk santri baru diberi waktu sampai tiga bulan untuk mempelajari bahasa arab setelah itu wajib untuk bisa ikut berbicara bahasa arab seperti santri – santri lainnya dan diberikan sangsi bagi yang melanggar.
Malam itu aku ikut berkumpul di atas sebuah karpet besar di dalam masjid. Seorang kakak kelas mendekatiku dan berkata “masmuki ya akhi? Min aina ji’ta?”. Aku tidak mengerti apa yang dia katakan tapi kemudian ia menjelaskan kalau artinya adalah “siapa nama anda? Darimana asal anda?”. Setelah mengerti maksud kata – katanya baru aku bisa menjawabnya dengan memperkenalkan diri.
Kakak itu bernama Ridho. Dia enggan untuk memanggilku dengan nama panggilanku biasanya. Dia lebih memilih memanggilku dengan nama keduaku yaitu Wira, potongan dari Wiranata. Aku memintanya untuk mengajariku bahasa arab karena sebelumnya aku belum pernah mempelajarinya. Tapi dia malah mengajakku kepada seorang ustadz yang dia bilang dia adalah seorang master bahasa arab di pesantren ini.
Ustadz itu bernama ustadz Ahmad Ya’kub. Penampilannya sangat sederhana untuk seseorang yang dipuji kakak kelas itu dengan sebutan master bahasa. Dia tersenyum melihatku lalu sedikit bertanya tentangku. Setelah itu ia menuliskan beberapa kata bahasa arab di selembar kertas dan menyuruhku untuk menghafalnya. “Lagi – lagi menghafal” pikirku.
****
   

[1] Midho’ah: Tempat wudhu
[2] Matbakh: dapur
Judul: Episode 4 _Lagi – Lagi Menghafal_
Rating: 10 out of 10 based on 24 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh Aghry

Jika Anda Suka Tulisan Ini, Mohon dishare ke teman - teman juga ya agar mereka juga dapat menikmati. Berikan juga penghargaan pada tulisan ini dengan menekan tombol G+. Mohon kesan dan kritiknya juga di komentar guna memperbaiki tulisan ini. Terima Kasih Atas Kunjungan Anda...

0 comments:

Posting Komentar

 
;