Rabu, 31 Juli 2013

Episode 5_Khutbatul ‘Arsy_

Sungguh hidup ini terlalu berat untuk dijalani. Terima kasih abi. Atas izin allah engkau tanamkan dalam jiwa kami sesuatu yang membuat kami selalu tersenyum walau menghadapi masalah yang berat. Keikhlasan

Episode 5
Khutbatul ‘Arsy
  Hari kedua di pesantren terlihat sangat cerah. Pagi – pagi para santri baru mulai dapat masuk kelas dan diberikan materi – materi tentang dasar – dasar bahasa arab. Memang belum masuk kelas yang formal tapi lebih baik karena dapat memperkenalkan kepada para santri tentang bahasa arab. Pukul Setengah Sembilan bel berbunyi tanda masuknya waktu makan pagi. Seluruh santri seperti biasa menuju math’am.
  Aku mulai bisa menikmati hari – hari di pesantren. Sepanjang jalan ke math’am aku bernyanyi – nyanyi bersama teman – teman sambil memukulkan sendok ke piring
masing – masing sebagai musiknya. Biasanya lagu – lagu nasyid akan disetelkan untuk mengiringi waktu makan. Dengan bantuan sound lagu itu jadi bisa didengarkan dimana – mana.       
  Meskipun harus mengantri tapi kami tidak mengeluh. Dengan sabar kami mengantri dibarisan yang kita dapat sambil memukul – mukul sendok ke piring atau menghentak – hentakan kaki ke lantai. Siapa yang cepat datangnya dia akan mendapatkan barisan terdepan dan dapat menikmati makan lebih cepat. Semakin lambat datangnya maka akan semakin lama ia harus mengantri di belakang antrian yang panjang.
  Tepat di depan antrian terdapat sebuah lubang besar yang menghubungkan dengan ruangan dapur. Setiap waktu makan maka kakak kelas yang bertugas untuk membagi – bagikan makanan. Biasanya akan ada dua orang yang bertugas. Satu untuk membagikan nasi dan lainnya untuk membagikan sayur dan lauk jika ada.
  Math’am itu sendiri dirancang dengan bentuk seperti rumah panggung atau rumah gubuk yang terbuat dari kayu. Di bawahnya terdapat sebuah birkah.oleh karena itu jika lagu nasyid disetel dan para santri mulai menghentakkan kakinya akan menciptakan sebuah musik seperti bermain gendang. Jika sudah begitu biasanya akan timbul suatu kebisingan. Oleh karena itu pengurus yang bertugas menjaga kedisiplinan meminta untuk tidak berisik kepada santri yang sedang mengantri dan akan memberikan sangsi bagi yang melanggar.
  Ada satu hal yang sangat hebat di pesantren ini. Bayaran makan perbulan disini hanya sebesar Rp 20.000,00. Sebuah nominal yang sangat kecil untuk biaya makan sampai satu bulan. Jika kita makan di warteg uang 20.000 hanya dapat kita gunakan untuk makan dua kali saja. Tapi di pesantren ini untuk satu bulan.
  Ternyata pesantren ini menggunakan sistem koperasi. Uang dua puluh ribu tadi digunakan untuk modal membeli bahan – bahan yang akan dijual di koperasi. Jumlah santri yang lumayan banyak akan menghasilkan keuntungan yang lumayan besar dan keuntungan itu akan dibawa ke pasar untuk dibelikan bahan jualan dan bahan makanan. Infak makan dua puluh ribu itu tidak akan pernah dirubah selamanya. Karena itu adalah amanat yang diberikan oleh pendiri pesantren ini kepada pimpinan pesantren sebelum meninggal. Meskipun murah namun dalam satu hari tidak akan kurang dari tiga kali waktu untuk makan.
****
  Siang harinya semua santri berkumpul dalam masjid. Acara hari ini ialah latihan gerak jalan atau PBB. Seorang panitia membagikan kelompok – kelompok. Setiap kelompok terdiri dari mereka yang sedaerah dengannya. Aku masuk ke kelompok konsulat Bogor. Ternyata ada banyak mereka yang berasal dari bogor.
  Latihan dilakukan di lapangan sepak bola. Panasnya terik matahari membuat rasa lelah cepat datang. Latihan kedisiplinan memang agak sulit diterapkan. Oleh karena itu latihan berlangsung lama bahkan sampai berhari – hari. Sang kapten biasanya akan membuatkan lagu yel – yel untuk dinyanyikan bersama – sama agar semua anggota kelompok tetap dalam keadaan semangat.
  Selain berlatih gerak jalan juga ada latihan pentas panggung untuk acara penutupan Khutbtul ‘Arsy. Adapula lomba – lomba lain seperti lomba adzan dan lomba tilawah. Setiap kelompok berlatih keras untuk memberikan yang terbaik dan mendapatkan kemenangan.
  Setelah satu minggu berlatih akhirnya tibalah pada acara inti. Dimulai dengan upacara apel tahunan sekaligus pembukaan tahun ajaran baru  2004 – 2005. Selesai apel seluruh santri langsung berangkat melakukan gerak jalan mengelilingi perkampungan sekitar. Setiap anggota menunjukan kekompakan mereka dalam berjalan agar latihan mereka tidak sia – sia.
  Sepanjang jalan aku memperhatikan perkampungan sekitar pondok. Sampai akhirnya aku melewati sebuah kampung yang bernama Poncol. Mendengar namanya aku mengingat tiga orang anak yang mengenalkan nama mereka dengan nama – nama ikan air tawar malam itu. Setelah beberapa hari tinggal di pesantren aku baru mengetahui nama sebenarnya tiga anak itu. Orang yang berpostur tinggi  kurus bernama Revi Fahrijal, orang yang berpostur pendek kurus bernama Ruslan Nursena, dan orang yang berpostur pendek gemuk bernama Rizki.
  Selama jalur gerak jalan ada beberapa post – post yang dijaga oleh panitia. Jika sebuah kelompok melewatinya maka pasti akan diuji sebentar untuk diambil penialaian. Sepanjang rute juga banyak panitia yang lalu lalang memperhatikan sambil membawa blanko penilaian.
  Garis finish terdapat di gedung serba guna pesantren. Semua kelompok serentak sampai ke garis finish pada pukul setengah Sembilan. Bel pun berbunyi tanda waktunya untuk makan pagi.
  Selesai makan pagi acara berlajut di sebuah ruangan aula atau disebut qo’ah. MC mulai memimpin berlangsungnya acara dan seluruh peserta dan dewan guru sudah menempati tempat yang disediakan dengan rapi. Isi acara kali ini adalah pidato perkenalan pondok pesantren Ulumul Qur’an.
  Pidato pertama disampaikan oleh pimpinan pesantren bapak Kiai Haji Edi Junaidi S, Ag. Beliau menyampaikan pidato yang bertema sejarah, panca, motto, dan semboyan pondok pesantren Ulumul Qur’an. Dari pidato beliau aku dapat pengetahuan tentang pesantren ini.
  Pesantren ini didirikan oleh ayahnya yaitu almarhum H.Rojam Bin H.Muri. pada tahun1992. Almarhum mewakafkan tanah miliknya seluas empat hektar untuk didirikan sebuah lembaga pendidikan bernama pondok pesantren yang kemudian dipimpin oleh anak pertamanya.
  Dalam menjalani pesatren ini pun ada panca jiwa pondok, motto pondok, dan semboyan pondok. Hal ini dijelaskan dengan sangat rinci agar dapat tertanam dalam setiap anak. Hal itu adalah:
PANCA JIWA PONDOK
  • KEIKHLASAN
  • KESEDERHANAAN
  • BERDIKARI
  • UKHUWAH ISLAMIYAH
  • KEBEBASAN

MOTTO PONDOK
  • SIAP DIPIMPIN DAN SIAP MEMIMPIN
  • DIATAS DAN UNTUK SEMUA GOLONGAN
  • BERJASALAH TAPI JANGAN MEMINTA JASA
  • BERBADAN SEHAT DAN BERPENGETAHUAN LUAS
  Seluruh hal itu semua tertanam dalam segala aspek di pesantren ini. Semua yang bekerja untuk pondok didasari keikhlasan. Tenaga guru yang berasal dari alumni sendiri pun didasari dengan keikhlasan dan tidak ada yang digaji. Mereka yang bekerja setiap hari di koperasi untuk kelangsungan makan santri sehari – hari didasari keikhlasan. Tidak sedikitpun keuntungan yang mereka dapat digunakan untuk kepentingan sendiri. Semua untuk pesantren. Dan semua sebenar – benarnya guru, bukan tukang ngajar.
  Semua yang dilakukan di pesantren juga tidak ada yang berfoya – foya. Kehidupan di dalamnya juga sangat sederhana. Dan semua harus dapat hidup mandiri. Harus dapat melakukan segalanya dengan kaki sendiri. Persaudaraan dan silaturshmi sangat dijaga. Mereka yang memutuskan membuat keributan atau memutuskan silaturahmi akan dikeluarkan dari pesantren. Hubungan dengan masyarakat dan orang tua juga sangat dijaga. Di setiap bulannya diadakan acara silaturahmi keluarga besar pesantren. Dan tidak ada yang dibatasi dalam pesantren ini. Semua santri bebas mengerahkan potensi – potensi dan kreativitas mereka.
  Pesantren ini juga tidak mengajarkan untuk meminta jasa dari apa yang kita lakukan. Karena tujuan sebenarnya adalah keridhoan dari Allah dan biarlah ia yang membalas. Pesantren ini juga berjuang untuk selalu maju selangkah dari semua golongan meskipun masih dalam tahap perkembangan. Namun didalamnya tidak ada yang boleh fanatik pada satu golongan saja. Tidak ada yang boleh menggunakan pakaian beratribut partai. Pesantren juga menjaga selalu kesehatan, menyediakan makanan – makanan yang baik, menjaga kebersihan, melestarikan olahraga, dan membebaskan dalam perluasan wawasan dalam bidang ilmu pengetahuan, Pesantren juga mengajarkan untuk selalu siap dipimpin oleh siapa saja. Bukan suatu hal yang mudah untuk benar – benar patuh dalam suatu kepemimpinan. Ada banyak organisasi dalam pesantren ini dan organisasi yang terbesar adalah OPPUQ atau Organisasi Pelajar Pesantren Ulumul Qur’an. Mereka yang belum mencapai waktu untuk memimpin akan menjadi anggota dan suatu hari mereka akan memimpin anggota mereka.
Judul: Episode 5_Khutbatul ‘Arsy_
Rating: 10 out of 10 based on 24 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh Aghry

Jika Anda Suka Tulisan Ini, Mohon dishare ke teman - teman juga ya agar mereka juga dapat menikmati. Berikan juga penghargaan pada tulisan ini dengan menekan tombol G+. Mohon kesan dan kritiknya juga di komentar guna memperbaiki tulisan ini. Terima Kasih Atas Kunjungan Anda...

0 comments:

Posting Komentar

 
;